Klik disini untuk login     |     Klik disini untuk Registrasi
Blog Budi Putra
Setelah lima tahun bekerja di grup TEMPO, sejak 1 Maret 2007, Budi memutuskan jadi full-time blogger. Situs OhMyNews yang berbasis di Korea Selatan menyebutnya sebagai Indonesia’s First Full-time blogger. Proyeknya sebagai blogger antara lain meluncurkan jaringan blog, Asia Blogging Network dan situs video blogging i-teve.com. Selain mengelola blog pribadinya, BudiPutra.com, Tips Ngeblog dan 3Gweek, ia juga menulis posting-posting teknologi buat SlashPhone, PhoneMag, iPhoneBuzz dan CNET Asia.
—Budi Putra
Media Arus Utama versus Blog?
Oleh Budi Putra - 9 Oktober 2008 - Dibaca 836 Kali -

Ini adalah pertanyaan yang keliru, sehingga akan menghasilkan jawaban yang keliru juga. Bagaimana mungkin memposisikan dua hal yang sesungguhnya tak perlu dipertentangkan?

Media arus utama (mainstream media) jelas berfungsi mewartakan berita-berita terbaru, eksklusif, resmi dan terkadang dengan penulisan yang dalam (in-depth), sementara blog adalah media personal yang menulis hal-hal yang unik, ringan, pendek dan biasanya spesifik, tetapi dengan pandangan yang sangat personal.

Jika pewarta media arus utama harus menulis berita sebisa mungkin tanpa dibalut opini (meski juga terkadang mustahil), blogger jelas-jelas menulis dengan opininya, karena blog adalah “diari” personalnya.

Di sinilah “keunggulan komparatif” para blogger. Dia bisa dengan santai bercerita tentang sebuah brand tanpa khawatir dituduh mengiklankan sebuah produk. Anda bisa menemukan banyak sekali blog yang khusus membahas satu produk atau brand tertentu (misalnya ada blog khusus Apple, Harley Davidson, Nintendo, BlackBerry) padahal mereka sama sekali tidak berafiliasi dengan perusahaan yang bersangkutan.

Bandingkan dengan media massa utama yang harus hati-hati sekali menulis. Sering kita temukan kalimat di suratkabar seperti ini: “…ujar CEO salah satu operator di sela-sela peluncuran sebuah ponsel di sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan.” :-)

Oh ya, ada keunggulan lainnya: Jika pewarta media massa harus menunggu sebuah produk misalnya harus diumumkan secara resmi, blogger tak harus menyimpan rasa penasarannya, tapi bisa saja menulis “bocoran-bocoran”-nya terlebih dahulu.

Sebagai seorang gadget blogger di 3Gweek dan SlashPhone, saya tiap hari merasakan hal ini. Alih-alih menunggu pengumuman resmi sebuah produk telepon seluler, kami para gadget blogger malah berlomba-lomba mencari dan menulis bocoran produk-produk tersebut - sehingga muncul istilah “exclusive-hands on“, “leaked pictures“. Rasanya senang sekali jika kita berhasil memposting sebuah breaking news karena akan di-linkback oleh blog-blog lainnya.

Bahkan, sebuah blog yang khusus meresensi ponsel memiliki tag-line yang dahsyat: “Reviewed yesterday, announced today“.

Tak heran, ponsel pintar macam iPhone, E71, Xperia, T-Mobile G1 Android, BlackBerry Storm, sudah heboh duluan di blogosfer jauh sebelum diumumkan resmi oleh para vendornya.

Mengapa blog-blog seperti ini memiliki audiens yang banyak? Dan mengapa para vendor suka ngasih bocoran produknya kepada mereka? Karena para mereka menulis dengan gairah (passion) dan antusiasme yang tinggi, sehingga dibanjiri oleh pembaca yang antusias pula!

Ya, betul: Ketika seseorang sudah mencintai suatu bidang, dia akan menongkronginya dengan sepenuh hati - seperti yang terjadi pada gadget blogger. Pada gilirannya, isu-isu soal akurasi sudah tidak relevan lagi, karena mereka menulis dengan sangat akurat karena benar-benar menguasai bidangnya tersebut!

Tags: , ,

Share on Facebook    
22 tanggapan untuk “Media Arus Utama versus Blog?”
  1. inu,
    — 9 Oktober 2008 jam 12:28 pm

    membuka wawasan dan menepis kekhawatiran

  2. Budi Putra,
    — 9 Oktober 2008 jam 12:36 pm

    Terimakasih, mas Wisnu. Paling tidak kehadiran blog Kompas sudah membuktikan hal itu; keduanya saling melengkapi, saling memperkaya…

  3. Andi Eko,
    — 9 Oktober 2008 jam 12:58 pm

    Ya, betul sekali mas Budi, Rumor dan issue memang sudah menjadi bahan baku untuk gadget blogger dan semuanya sah saja, karena sebagian besar ada opini pribadi jadi tidak ada yang harus disalahkan jika apa yang ditulis ternyata tidak sesuai dengan apa yang ada karena memang seringkali belum diluncurkan produknya tapi sudah di review :)

  4. atmo,
    — 9 Oktober 2008 jam 1:32 pm

    yah, ini yg mestinya dijelaskan sejelas-jelasnya, kalau blog dan media aru sutama itu sesuatu yg beda bgt.

  5. Taufik H. Mihardja,
    — 9 Oktober 2008 jam 4:48 pm

    Kalau melihat case Kompasiana, ia sebetulnya dimaksudkan sebagai kanal bagi para wartawan untuk mencurahkan lebih jauh buah pikiran mereka tentang sesuatu hal yang mereka lihat dan rasakan (beyond a hard news). Sehingga, opini pribadi tentu akan mewarnai hasil karyanya. Karakter inilah yang antara lain menjadi pembeda antara dia sebagai wartawan dan dia sebagai blogger. Tentang integritas terhadap hasil karya, tentu itu sudah menjadi satu hal yang embedded dengan dirinya. Karena itu, meski terbuka (secara limited) bagi network blogger, Kompasiana tetap ingin menjaga integritasnya juga.

  6. Pepih Nugraha,
    — 9 Oktober 2008 jam 5:55 pm

    Pada akhirnya, pembaca sendirilah yang menjadi penentu. Kita tidak bisa memaksa pembaca untuk hanya membaca media arus utama atau sebaliknya hanya membaca blog. Itu mustahil. Masing-masing pembaca punya referensi. Mengambil kasus postingan blogger Wisnu Nugroho yang meliput Istana, saya pribadi lebih suka membaca blognya di Kompasiana daripada membaca berita Presiden di media arus utama. Selain pasti seragam dengan media arus utama lainnya, saya sudah kadung mendengarnya di radio, melihatnya di tv, atau membacanya selintas di media dotcom. Di Kompasiana, saya benar-benar membaca berita dan opini yang lugas dan apad adanya. Ini benar-benar preferensi masing-masing.

  7. Yodhia - Strategi + Manajemen,
    — 9 Oktober 2008 jam 7:18 pm

    Kayaknya memang lebih nikmat membaca blog Paul Krugman, dibanding membaca kolom resmi dia di NYT.

  8. F,
    — 10 Oktober 2008 jam 5:12 am

    Waw, blog dengan niche seperti ini yang sudah lama saya cari :D

    Mainstream Versus Blog? pandangan saya pribadi, seperti Band major Label dan Band indie label dalam dunia musik. Persis :)

  9. amril,
    — 10 Oktober 2008 jam 8:27 am

    Sepakat Mas Budi!. Kegairahan dan Ketulusan memberitakan secara obyektif menjadi salah satu kunci keberhasilan blogger menggaet pembaca. Saya pribadi menyatakan salut atas usaha Kompas menghadirkan Kompasiana sebagai blog khusus jurnalis Kompas di dunia maya.

  10. RIRI SATRIA,
    — 10 Oktober 2008 jam 10:19 am

    Tetapi Bud, tetap saja blog ini di bawah embel2 label Kompas, di mana ada suatu kredibilitas Kompas yang dipertaruhkan diantara sepak terjang para blogger di sini.

    Bagaimana supaya Kompas tidak mengalami masalah, sementara para blogger tetap bebas “berekspresi” … kalau saya nilai di sini, terjadi pertemuan antara “blogging” culture dengan formalitas “mainstream media” ….

  11. Ben,
    — 10 Oktober 2008 jam 2:18 pm

    Sayangnya, kadang-kadang saya masih menemukan sejumlah tulisan di Kompas cetak yang terkesan memojokkan blog. Kalau punya alasan yang kuat dan benar sih tidak apa-apa. Parahnya, justru sebaliknya.

    Butuh contoh detil? :)

  12. prayitno ramelan,
    — 14 Oktober 2008 jam 6:41 am

    Setuju Mas Budi Putra, ada alsan lain, bagi seseorang yang suka menulis, membagi pengetahuan, sharing idea, maka blog adalah merupakan tempat yang sangat dinikmatinya. Ego akan terpuaskan, sebenarnya bagi sebuah bangsa dimana bloggernya banyak, maka tidak terasa ada unsur pendidikan yang akan memajukan bangsa tersebut dengan cepat dan akurat. Seperti yg disebutkan, blogger bila sudah menyukai satu bidang, dia akan menekuninya, jelas bobotnya akan berat berisi, mana mungkin seseorang menulis tanpa membaca, tanpa belajar kan. Wilayah blog jauh mengungguli media cetak, tersebar didunia dengan sangat cepat. Kalau kita di Alaska, atau di wellington sana harus nunggu kapan untuk dapat membaca Koran Kompas. Jelas ada Media cetak yang cemburu, blog adalah saingan utamanya. Jadi langkah Kompas ini hebat, mengikuti perkembangan zaman. Kita angkat empat jempol…Karena ini adalah blog Jurnalis dibawah Kompas, maka saya setuju pendapat Mas Riri,harus agak hati-hati dengan sepak terjang beberapa rekan yang kadang agak lupa dengan budaya kita…yang sedang enak ditiru kan kebebasan dari negara lain…(termasuk sistem politiknya). Mari kita bersama memanfaatkan Kompasiana, mengajak adik-adik kita, para generasi penerus agar mau maju lewat blog, orang lain sudah ada yang tour keangkasa luar…kita masih saja ribut hanya untuk memilih gubernur, bupati dan lurah…saya tidak menyinggung antre minyak tanah, nanti ada yang tersinggung kan. Salam.Prayitno Ramelan.

  13. mantan kyai,
    — 14 Oktober 2008 jam 7:38 am

    saya sepakat. blog dan media mainstream tidak bisa dibandingkan. walaupun oleh beberapa media utama saya masih membaca kesan meremehkan blog :D

  14. dhany,
    — 17 Oktober 2008 jam 11:57 am

    jadilah para blogger bak Paparazi Informasi
    mudah-2 an di negeri kita tidak ada istilah PEMBREIDELAN WEBLOG

  15. Budi Putra,
    — 22 Oktober 2008 jam 12:17 pm

    Riri Satria: Menurut saya itu tidak masalah, di mana pun ia ngeblog, seorang blogger akan tetap berusaha menjaga kredibilitasnya di mata pembaca. Ia akan menulis dengan baik, akurat dan seterusnya. Bagi saya, menulis di blog pribadi maupun di Kompasiana ini, hampir tak ada bedanya. Yang penting saya terus mengekspresikan ide dan pikiran saya sebagai pembuka diskusi dengan para pembaca lainnya.

    Ben: I know what you mean :-)

    Prayitno Ramelan, mantan Kyai, Dhany, terimakasih atas urun pendapatnya.

  16. Blog Budi Putra» Blog Archive » Masa Depan Media Sosial Ada di Content,
    — 23 Oktober 2008 jam 9:20 am

    [...] Jika belum mahir menulis, tidak masalah: hal itu akan terasah dengan sendirinya jika Anda terus berlatih dan berlatih. Saya punya banyak rekan blogger di luar yang awalnya hanya programmer atau penggemar games (dan sama sekali bukan penulis dan tak berlatarbelakang dunia penulisan), tetapi karena rajin dan disiplin menulis blog, kini mereka telah menjadi penulis blog yang handal dan disenangi! Tak sedikit juga dari mereka yang kemudian diundang menulis oleh media mainstream. [...]

  17. Diskusi Soal Masa Depan Blog — Tips Ngeblog by Budi Putra,
    — 27 Oktober 2008 jam 11:20 am

    [...] Media Arus Utama versus Blog? - Kompasiana: Ini adalah pertanyaan yang keliru, sehingga akan menghasilkan jawaban yang keliru juga. Bagaimana mungkin memposisikan dua hal yang sesungguhnya tak perlu dipertentangkan? (Read more) [...]

  18. Diskusi soal masa depan blog | Informasi Area,
    — 4 November 2008 jam 4:34 pm

    [...] Media Arus Utama versus Blog? - Kompasiana: Ini adalah pertanyaan yang keliru, sehingga akan menghasilkan jawaban yang keliru juga. Bagaimana mungkin memposisikan dua hal yang sesungguhnya tak perlu dipertentangkan? (Read more) [...]

  19. joe,
    — 15 November 2008 jam 8:25 am

    Menurut Anda Pak, apakah perkembangan blog di Indonesia itu hanya trend sesaat atau justru ini baru sebuah embrio?

  20. Aulia,
    — 28 November 2008 jam 3:44 pm

    Teringat dengan breakout sessions pas PB08 yang lalu mas, media harus senantiasa merangkul blogger.

  21. anton,
    — 24 Februari 2009 jam 9:08 pm

    Benar benar suatu motivasi yang hebat, sulitnya sih jika ngeblog mempunyai hobi yang disukai tapi bingung cara penyalurannya. Tapi dengan artikel mas di atas saya akan bersaha menjadi lebih baik sesuai hobi saya. makasih..

  22. imron46,
    — 23 Mei 2009 jam 10:14 am

    Untuk ini saya setuju, saya pernah menulis di Suara Merdeka untuk membahas tentang sebuah isu, kemudian tanggapan berdatangan lewat surat pembaca,pihak redaksi senang karena banyak pembaca yang penasaran dengan opini berikutnya yang terjadi justru kehilangan passion, seolah - olah kenikmatan menulis menjadi hilang yang ada justru money oriented sehingga kualitas tulisan menjadi jelek, akhirnya memutuskan untuk menulis lewat blog, sempat berpikir monetisasi tetapi passion berbagi telah membuat postingan menjadi lebih mengalir dan lebih hidup, jika saya boleh tanya selain dari monetisasi ada gak yang menerima postingan kita dan membayar kita sehingga kalo keluar dari pekerjaan ada penopangnya..

kirim komentar

  • Isikan kode keamanan di samping.
  • Jika kata tidak dapat terbaca klik tombol "get a new challange".
  • Pastikan komentar anda disimpan juga ditempat lain sebagai backup.
  • the Outliers..(ndilalah) the opinion makers.. Menarik sekali mengikuti perjalanan sosialisasi bank syariah ke berbagai kalangan masyarakat, dan mengamati respon yang ...
    oleh Janu Dewandaru - Juli 4, 2009 : 8:05 am
  • Menuju Perbankan Syariah Yang Berdasarkan Sistem Bagi Hasil Perbankan syariah atau Perbankan Islam adalah suatu sistem perbankan yang dikembangkan berdasarkan syariah (hukum) islam. ...
    oleh Andi wardiman - Juli 3, 2009 : 3:56 pm
  • Artikel lomba harus ditayangkan di blog pribadi/situs pertemanan peserta. Baca Ketentuan Lomba lainnya